Pages

Subscribe:

Sabtu, 15 Oktober 2011

Asal Usul Kota Putussibau

PENDAHULUAN
Putussibau adalah sebuahkecamatandiKabupaten Kapuas Hulu,Kalimantan Barat, Indonesia. Putussibau, yang sekaligus sebagai ibukotaKabupaten Kapuas Hulu, dapat ditempuh lewat transportasiSungai Kapuassejauh 846 km dan lewat jalan darat sejauh 814km dariPontianak , ibukotaKalimantan Barat. Kabupaten Kapuas Hulu adalah salah satu Daerah Tingkat II di propinsi Kalimantan Barat. Memiliki luas wilayah 29.842 km², dan berpenduduk 186.318 jiwa (2002).Kota ini terletak di huluSungai Kapuasyang memiliki panjang 1,143 kilometer, dan56 persen dari luas wilayah kabupaten ini adalah kawasan konservasi dalam bentuk tamannasional dan hutan lindung. (Coordinates: 0°51'58"N 112°55'28"E)Kota Putussibau berdiri pada tanggal 1 Juni 1895, sewaktu pemerintah kolonialHindia Belanda menempatkan seorang
Controleur 
di wilayah Boven Kapuas bernama L.C.Westenemk (1895-1897) yang berkedudukan di Putussibau. Wilayah Boven Kapuas sendirimerupakan salah satu
onderafdeeling 
dari Residen
Sintang. Berdasarkan landasan historis, pemerintah Kabuaten Kapuas Hulu mengadakan Seminar yang membahas ”Hari Jadi KotaPutussibau” pada tanggal 14-15 Februari 2005 di Putussibau. Hasil seminar tersebutmenjadi dasar keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 3Tahun 2006 Tentang Penetapan Hari Jadi Kota Putussibau.Pada mulanya, penduduk yang mendiami Kota Putussibau adalah orang-orangDayak Kantu’ dan Dayak Taman. Masyarakat Dayak Kantu’ berasal dari daerah Sanggauyang bermigrasi ke arah timur dan menetap di sebelah selatan Kota Putussibau, sedangkanorang-orang Dayak Taman tinggal menyebar di Kota Putussibau. Orang-orang yang beragama Islam di Kota Putussibau berasal dari suku Dayak Taman dan Dayak Kayan yangmemeluk agama Islam.
ASAL USUL KOTA PUTUSSIBAU
A.Pertumbuhan dan Perkembangan Kota Putussibau
Putussibau pada masa sekarang merupakan Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu yang berada di wilayah propinsi Kalimantan Barat. Keberadaan Kota Putussibau tidak terlepas dari adanya pemerintahan tradisional zaman dahulu hingga pemerintah modernsesudah masuknya Bangsa Belanda dalam bentuk pemerintahan Koloni Belanda.Putussibau sendiri merupakan satu nama daerah atau tempat di antara beberapa namadaerah yang ada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Di antara nama daerah di wilayahKabupaten Kapuas Hulu, selain Kota Putussibau yang sejak zaman dahulu adalahEmbaloh, Kalis, Suhaid, Selimbau, Silat, Bunut dan lain-lain. Nama-nama daerah ituzaman dahulu adalah nama-nama kerajaan yang ada di wilayah Kapuas Hulu. Namunsekarang daerah tersebut telah menyatu menjadi bagian yang integral dari NKRI,khususnya sejak terbentuknya Pemerintahan Administratif pada tahun 1953 berdasarkanUU Darurat No 3 Tahun 1953. Pada perkembangannya daerah-daerah tersebut menjadiwilayah-wilayah kecamatan sebagai bagian dari Kabupaten Kapuas Hulu.
1.Asal Mula Kata Putussibau
 Nama Putussibau menurut cerita rakyat yang berkembang di KotaPutussibau berasal dari gabungan kata “putus” (memutus atau memotong) dan‘Sibau” (nama sungai yang membelah kota Putussibau). Sungai Sibau dinamakandemikia karena daerah di kiri kanan yang dilalui sungai Sibau banyak terdapat pohon/kayu Sibau yang buahnya seperti buah rambutan. Selain Sungai Sibau, KotaPutusibau juga dialiri Sungai Kapuas yang merupaan sungai terpanjang diIndonesia.Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu sendiri dinamakan demikian karena dikabupaten inilah yang menjadi hulu Sungai Kapuas. Sungai Kapuas yang melewatiKota Putussibau telah memutus aliran Sungai Sibau yang membelah KotaPutussibau sehingga dikatakan Putussibau. Menurut versi cerita rakyat lainnya, bahwa munculnya nama Putussibau berasal dari kata “Sibau” yang merupakan jenis2 pohon/kayu Sibau yang buahnya seperti buah rambutan. Daun pohon ini dapatdigunakan sebagai bahan pewarna pada tikar. Diceritakan dahulu kala ada pohonSibau yang tumbuh besar ditepi sungai. Pohon Sibau tersebut tumbang menghalangialiran sungai, dan dari peristiwa itulah masyarakat menamakan daerah itu dengannama Putussibau.
2.Asal Mula Penduduk Putussibau
Pada mulanya penduduk yang mendiami Kota Putussibau adalah orangDayak Kantu’ dan Dayak Taman. Daya Kantu’ berasal dari daerah Sanggau yang berimigrasi ke timur. Orang-orang Dayak Kantu’ tinggal di sebelah selatan KotaPutussibau. Sedangkan orang Dayak Taman tinggal di daerah hilir di kampongTeluk Barat. Setelah berimigrasi ke Putussibau, banyak dayak Taman yangmemeluk agama Islam. Selain dua suku tersebut, ada pula Suku Kayan yangmenetap di daerah Kedamin. Suku Kayan ini juga banyak yang memeluk Islam.Sebelum kedatangan Bangsa Belanda, suku-suku Dayak ini membentu pemerintahan tradisional sendiri yang mengatur wilayahnya masing-masing. Padaabad ke-19 Masehi mereka termasuk dalam wilayah Kerajaan Selimbau.
B.Masa Penjajahan1.Kondisi Sosial Politik Zaman Belanda
Belanda datang pertama kali ke wilayah Kapuas Hulu di Kerajaan Selimbau pada tahun 1847, dengan pemerintahan Abbas Surya Negara. Orang Belanda yangdating ke kerajaan Selimbau tersebut adalah Asisten Residen Sintang bernamaCettersia. Dia datang dengan maksud meminta izin kepada Raja Selimbau untuk menebang kayu di daerah Kenerak. Kayu tersebut oleh Belanda untuk mendirikan benteng di daerah Sintang. Permohonan tersebut dikabulkan oleh raja Selimbaudengan perjanjiannya adalah bahwa seandainya jumlah kayu yang dibutuhan banyak maka mereka diperbolehkan bekerja lebih lama di Kenerak.
Setelah perjanjian disetujui oleh kedua belah pihak, Cettersia kemudianmenyuruh tukang kayu Cina dan satu orang Melayu Bugis bernama Wak Cindarok.Kayu-kayu hasil tebangan tersebut diangkut melalui sungai Kenera, Kendali, Raya,Kenepai, Gebong, Rigi, Riau, Lemeda, Marsida, Kemelian, Subang, danKemayung.Pada tanggal 15 November 1823 (11 Rabiul Awal 1239 H), pada masa pemerintahan Pangeran Soema, pemerintahan koloni Hindia Belanda mengakuikedaulatan Kerajaan Selimbau yang menguasai tanah negeri Silat. KemudianKerajaan Selimbau mendirikan negeri baru yang diberi nama Nanga Bunut danmengangkat Abang Berita sebagai rajanya dengan gelar Raden Suta.Sejak pangeran Muhammad Abbas Negara berkuasa, terjadi konflik antara KerajaanSelimbau dengan Kerajaan Sintang.Pada tahun 1838 M, Kerajaan Sintang melakukan penyerangan terhadapKerajaan Selimbau. Kerajaan Sintang dipimpin oleh Pangeran Adipati MohJamaluddin meyerang Kerajaan Selimbau pada tanggal 7 Ramadhan 1259 H.Kerajaan Selimbau meminta bantuan kepada Kerajaan Pontianak yang dipimpinoleh Sultan Syarif Usman bin Sultan Syarif Abdulrahman Al Kadri. PemerintahanKolonial Hindia Belanda juga turut campur dalam peperangan itu karena pihak Belanda mempunyai perjanjian dengan Kerajaan Pontianak dalam masalahkeamanan dan peperangan.Selain berkonflik dengan Kerajaan Sintang, Kerajaan Selimbau juga sempat berperang dengan Kerajaan Sekadau di daerah Sungai Ketungau. Pada tanggal 15Desember 1847, Pangeran Muh Abbas Surya Negara mendapat pengakuan dari pemerintah kolonia Hindia Belanda untuk memimpin tanah Kapuas Hulu yangwilayahnya sampai ke hulu negeri Silat. Pada pemerintahan Pangeran Abbas inilahKerajaan Selimbau mengalami zaman keemasan dan mempunyai daerah kekuasaanyang sangat luas sampai ke daerah Batang Aik Serawak Malaysia. Panembahan HajiMuda Muh Saleh Pakunegara mendapat pengakuan kedaulatan oleh pemerintahancolonial Belanda di Batavia sebagai penguasaKerajaan Selimbau. Ia diangkatmenjadi raja ke-23 pada tanggal 28 Februari 1882 M. panembahan H. Gusti MuhUsman menjadi raja terakhir Kerajaan Selimbau yang ke 25, beliau dinobatkan oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1912 M. Pada masanya ini Kerajaan Selimbau4
 
mengalami penderitaan karena harus membayar pajak tinggi. Beliau meninggaltahun 1923 M.Selama kedudukan Gusti Muhammad Usman, pemerintahan Belandamelakukaan beberapa perjanjian:1) Tanggal 15 November 1823 M dengan Pangeran Soama. Isi perjanjian adalah pengakuan pemerintahan Belanda atas kedaulatan Kerajaan Selimbau yangmenguasai tanah negeri Kapuas Hulu dan negeri Silat.2) Tanggal 5 Desember 1847 M, dengan Pangeran Muh Abbas Surya Negara. Isi perjanjiannya adalah pengauan pemerintah Belanda atas kedaulatan KerajaanSelimbau di tanah Kapuas hulu yang kekuasaannya sampai ke Hulu NegeriSilat.3) Tanggal 27 Maret 1855 M, dengan Pangeran Muh Abbas Surya Negara. Isi perjanjiannya adalah pengauan pemerintahan Belanda atas kedaulatan KerjaanSelimbau di Tanah Kapuas Hulu. Daerah yang telah ditaklukkan oleh PangranMuh Abbas meliputi: Dayak Batang Lumpur yang tinggal di Suriyang, Tangit,Sumpak, Semenuk, dan Lanja.4) Tanggal 28 Februari 1880 M, dengan Pangeran Haji Muda Agung Muh SalehPakunegaraPada masa pemerintahan Belanda (sekitar tahun 1936), Sintang merupakandaerah landschop di bawah naungan pemerintahan Gouvernement. DaerahLandschop ini terbagi menjadi 4 (empat) onderafdeling yang dipimpin oleh seorangcontroleur atau gesagkekber, yaitu :1.Onderafdeling Sintang, berkedudukan di Sintang;2.Onderafdeling Melawi, berkedudukan di Nanga Pinoh;3.Onderafdeling Semitau, berkedudukan di Semitau;4.Onderafdeling Boeven Kapuas, berkedudukan di Putussibau.Pemerintahan Landschop ini berakhir pada Tahun 1942 dan kemudiantampuk pemerintahan diambil alih oleh Jepang.
2. Perlawanan Terhadap Bangsa Belanda
Perlawanan yang dilakukan oleh rayat Putussibau terhadap pemerintahanBelanda di antaranya dilaukan oleh Djeranding Abdurrahman yang berasal dariSuku Dayak Iban yang memeluk Islam. Pada masa mudanya Djeranding pernahsekolah sampai kelas V SD. Melalui pendidian tersebut beliau mulai mengerti akankondisi bangsanya yang sedang di jajah Belanda.Djeranding mulai terjun dalam pergerakan setelah bertemu dengan GustiSulung Lelanang, bersamanya Djeranding terjun dalam organisasi Serikat Rakyat.Dalam organisasi ini Djeranding mengadakan propaganda di kalangan Suku Dayak dan membantu menerbitkan Surat Kabar Halilintar di Pontianak pada tahun 1925.Djeranding kemudian dibuang oleh pemerintah Belanda ke Bevon Digul PapuaBarat pada tahun 1927 karena ativitasnya dianggap menentang pemerintahanBelanda.
3.Kondisi Sosial Ekonomi Zaman Jepang
Pada masa pemerintahan Jepang ini, struktur pemerintahan yang berlakutidak mengalami perubahan hanya sebutan wilayah kepala pemerintahan yangdisesuaikan dengan bahasa negara yang memerintah ketika itu. Kepala Negaradisebut Kenkarikan (semacam Bupati sekarang) sedangkan wakilnya disebutBunkenkarikan dan di setiap kecamatan diangkat Gunco (Kepala Daerah).Jepang masuk ke Kapuas Hulu pada tahun 1942 dengan membuka pertambangan Batu Bara di bagian hulu Sungai Tebaung dan Sungai Mentebah.Dengan mempeerjakan orang pribumi, dengan jam kerja 8 jam/hari. Pada masa pendudukan Jepang di Kalimantan Barat antara tahun 1942-1945 wilayah KapuasHulu dipimpin oleh; Abang Oesman (1942-1943), K. Kastuki (1943-1944), danHonggo (1944-1945)
4.Perlawanan Terhadap Bangsa Jepang
Pada masa Jepang berkuasa di Kalbar antara tahun 1942-1945, wilayahKapuas Hulu juga termasuk dikuasainya. Pada awalnya kedatangan Jepangmendatangkan harapan akan membebasan rakyat dari penjajahan Belanda. NamunSwapraja: Swapraja Sambas, Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Matan,Sukadana, Simpang, Sanggau, Sekadau, Tayan, dan Sintang. Sedangkan NeoSwapraja : Meliau, Nanga Pinoh, dan Kapuas Hulu.Presiden Kalimantan Barat melalui Surat Keputusan Nomor 161 tanggal 10Mei 1948 membentuk suatu ikatan federasi dengan nama daerah Kalimantan Barat.Untuk mendukung federasi ini, Belanda mengeluarkan Besluit LuitenantGouverneur Kenderal Nomor 8 tanggal 2 Maret 1948 yang isinya adalah pengakuanstatus Kalimantan Barat sebagai daerah Istimewa dengan pemerintahan sendiri beserta sebuah Dewan Kalimantan Barat.Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), daerah Kalimantan berstatussebagai daerah bagian (bukan Negara Bagian) yang terdiri dari satuan-satuankenegaraan seperti Daya Besar, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Banjar.Dengan adanya tuntutan rakyat, maka DIKB yang dipandang sebagai peninggalan pemerintah Belanda, berdasarkan keputusan Dewan Kalimantan Barat tanggal 7Mei 1950, dengan masing-masing No 235/R dan 235/R menyatakan bahwa baik  badan pemerintah harian DIKB maupun pejabat kepala pusat PIS yang diwakili olehseorang pejabat berpangkat presiden.Pada masa kemerdekaan kemudian Pemerintah Kabupaten Kapuas Huludibentuk berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentangPembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 9 Tambahan Lembaran Negara Nomor 352). Daerah Tingkat II KabupatenKapuas Hulu terbentuk bersamaan dengan Daerah Tingkat II lainnya di PropinsiKalimantan Barat.
 3.Jumlah Penduduk  
Berdasarkan registrasi penduduk Kabupaten Kapuas Hulu diperoleh data jumlah penduduk Kapuas Hulu tahun 2007 mencapai 216.918 jiwa dengan rincian109.932 jiwa laki-laki dan 106.986 jiwa perempuan yang tersebar di 23 Kecamatandengan mata pencaharian sebagian besar adalah petani.
 
D. Potesi Wisata dan Peninggalan Sejarah Di Kota Putussibau1. Potensi Wisata 
Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu daerah tujuan wisata di propinsi Kalimantan Barat. Sungai Kapuas yang masih terpelihara alamnya, budayadan kearifan tradisional masyarakat. Terdapat dua kawasan yang telah ditetapkansebagai kawasan Taman Nasional yaitu Betung Kerihu dan Danau Sentarum.Potensi pariwisata di Kabupaten Kapuas Hulu selain ditunjang oleh bentang alamyang indah juga ditunjang oleh keunikan budaya yang ada. Pemerintah KabupatenKapuas Hulu melalui Dinas Pariwisata dan kebudayaan telah mengambil kebijakandengan membagi empat wilayah yaitu: bagian Timur Kapuas Hulu, Barat , Utara,dan Selatan Kapuas Hulu.Pembagian wilayah ini dimaksudkan untuk mempermudah pengembangan program pariwisata berkenaan dengan kelompok-elompok atraksi yang ada,sehingga pengembangannya dapat terkonsentrasi berdasarkan kelompok masing-masing wilayah tersebut. 

2.Peninggalan Sejarah 
Di Kota Putussibau terdapat peninggalan sejarah yaitu berupa Situs Neolitikum di Nanga Balang, Kecamatan Putussibau Selatan dan Rumah Mayat(Kulambu) Semangok II yang terletak di Kecamatan Putussibau Utara. Kedua peninggalan sejarah tersebut telah terdaftar sebagai benda cagar budaya. 

KESIMPULAN 
Kota Putussibau adalah salah satu nama daerah dan tempat diantara beberapa namadaerah yang ada diwilayah kabupaten Kapuas Hulu. Kota ini terletak di huluSungai Kapuasyang memiliki panjang 1,143 kilometer, dan 56 persen dari luas wilayah kabupatenini adalah kawasan konservasi dalam bentuk taman nasional dan hutan lindung.(Coordinates: 0°51'58"N 112°55'28"E). Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dinamakandemikian karena di kabupaten inilah yang menjadi hulu Sungai Kapuas.Sungai Kapuas yang melewati Kota Putussibau telah memutus aliran Sungai Sibauyang membelah Kota Putussibau sehingga dikatakan Putussibau. Menurut versi ceritarakyat lainnya, bahwa munculnya nama Putussibau berasal dari kata “Sibau” yangmerupakan jenis pohon/kayu Sibau yang buahnya seperti buah rambutan. Diceritakandahulu kala ada pohon Sibau yang tumbuh besar ditepi sungai. menghalangi aliran sungai.Kota Putussibau berdiri pada tanggal 1 Juni 1895, sewaktu pemerintah kolonialHindia Belanda menempatkan seorang Controleur di wilayah Boven Kapuas bernama L.C.Westenemk (1895-1897) yang berkedudukan di Putussibau. Pada masa kemerdekaankemudian Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dibentuk berdasarkan Undang-undangDarurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan(Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 9 Tambahan Lembaran Negara Nomor 352).Daerah Tingkat II Kabupaten Kapuas Hulu terbentuk bersamaan dengan Daerah Tingkat IIlainnya di Propinsi Kalimantan Barat.Berdasarkan landasan historis, pemerintah Kabuaten Kapuas Hulu mengadakanSeminar yang membahas ”Hari Jadi Kota Putussibau” pada tanggal 14-15 Februari 2005 diPutussibau. Hasil seminar tersebut menjadi dasar keluarnya Peraturan Daerah (Perda)Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Penetapan Hari Jadi KotaPutussibau.Demikianlah makalah ini penulis persembahkan agar dapat memberikan manfaatkepada sidang pembaca pada umumnya dan khususnya pada penulis agar dapat lebihmengenali serta memahami asal-usul kota Putussibau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar